jalanankosong

raihlah mimpimu

Satu – bagaimana

Tinggalkan komentar

Banyak orang hari ini merayakan pergantian tahun, membuang buang uang hanya untuk sekedar mewarnai malam di awal tahun dengan cahaya api dari kembang api. Tak boleh ber buruk sangka, mungkin mereka memang sedang kelebihan uang, bahkan untuk sekedar memberi bantuan kepada korban banjir di negeri ini, mereka sisihkan untuk membeli kembang api, mungkin sebagian kembang api mereka kirimkan kepada korban bencana alam, agar mereka ikut merayakan kembang api. Mungkin mereka mau menghibur keluarga-keluarga yang salah satu anggota keluarganya ada di salah satu atau dua dalam daftar penerbangan AirAsia QZ8501.

Jangan sok suci, liat bagaimana kamu juga membuang waktu menghabiskan malam terakhir di taun lalu, iya benar, Aku sibuk dengan perjalan menuju Bekasi menemui teman satu perjuanganku di ALOERS. mereka menjadi teman yang mengawali awal tahun ini, bercerita berdiskusi dan menemani aku menyelesaikan video.  Maka akupun tak berhak menghakimi mereka yang membunyikan terompet berpesta dan membakar uang sekejap di angkasa di malam tahun baru tadi malam. bahkan akupun belum menyumbang sepeserpun untuk korban banjir, bahkan mendoakan merekapun aku belum, maka Tak pantaslah aku menghakimi mereka.

Biar nurani yang menghukum kita, dengan kecuekan kita, dan sikap apatis kita melihat berita berita di TV yang seakan-akan menjadi makanan pokok pengganti nasi. seberapa peduli kita dengan korban banjir, dan seberapa care kita dengan musibah pesawat yang lalu. Yang jelas, mari kita doakan mereka, supaya diberi ketabahan, diberi jalan keluar yang terbaik, dan untuk korban meninggal, semoga keluarganya diberi ketabahan dan untuk korban sesama muslim semoga diberi ampunan atas dosa dosanya, banyak hikmah dibalik semua musibah kan ya, gak penting memikirkan siapa yang peduli dan siapa yang gak peduli, jika kita belum peduli, mari doakan mereka, saudara kita sebangsa dan setanah air, dan satu bumi.

This gallery contains 0 photos


Tinggalkan komentar

Catatan di Fanpage FB Ust.Mohammad Fauzil Adhim

👪 “Ibu untuk Anak Kita” 👪

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Kunci untuk melahirkan anak-anak yang tajam pikirannya, jernih hatinya dan kuat jiwanya adalah mencintai ibunya sepenuh hati. Kita berikan hati kita dan waktu kita untuk menyemai cinta di hatinya, sehingga menguatkan semangatnya mendidik anak-anak yang dilahirkannya dengan pendidikan yang terbaik. Keinginan besar saja kadang tak cukup untuk membuat seorang ibu senantiasa memberikan senyumnya kepada anak. Perlu penopang berupa cinta yang tulus dari suaminya agar keinginan besar yang mulia itu tetap kokoh.

Uang yang berlimpah saja tidak cukup. Saat kita serba kekurangan, uang memang bisa memberi kebahagiaan yang sangat besar. Lebih-lebih ketika perut dililit rasa lapar, sementara tangis anak-anak yang menginginkan mainan tak bisa kita redakan karena tak ada uang. Tetapi ketika Allah Ta’ala telah memberi kita kecukupan rezeki, permata yang terbaik pun tidak cukup untuk menunjukkan cinta kita kepada istri. Ada yang lebih berharga daripada ruby atau berlian yang paling jernih. Ada yang lebih membahagiakan daripada sutera yang paling halus atau jam tangan paling elegan.

Apa itu? Waktu kita dan perhatian kita.

Kita punya waktu setiap hari. Tidak ada perbedaan sedikit pun antara waktu kita dan waktu yang dimiliki orang-orang sibuk di seluruh dunia. Kita juga mempunyai waktu luang yang tidak sedikit. Hanya saja, kerapkali kita tidak menyadari waktu luang itu. Di pesawat misalnya, kita punya waktu luang yang sangat banyak untuk membaca. Tetapi karena tidak kita sadari –dan akhirnya tidak kita manfaatkan dengan baik—beberapa tugas yang seharusnya bisa kita selesaikan di perjalanan, akhirnya mengambil hak istri dan anak-anak kita. Waktu yang seharusnya menjadi saat-saat yang membahagiakan mereka, kita ambil untuk urusan yang sebenarnya bisa kita selesaikan di luar rumah.

Bagaimana kita menghabiskan waktu bersama istri di rumah juga sangat berpengaruh terhadap perasaannya. Satu jam bersama istri karena kita tidak punya kesibukan di luar, berbeda sekali dengan satu jam yang memang secara khusus kita sisihkan. Bukan kita sisakan. Menyisihkan waktu satu jam khusus untuknya akan membuat ia merasa lebih kita cintai. Ia merasa istimewa. Tetapi dua jam waktu sisa, akan lain artinya.

Sayangnya, istri kita seringkali hanya mendapatkan waktu-waktu sisa dan perhatian yang juga hanya sisa-sisa. Atau, kadang justru bukan perhatian baginya, melainkan kitalah yang meminta perhatian darinya untuk menghapus penat dan lelah kita. Kita mendekat kepadanya hanya karena kita berhasrat untuk menuntaskan gejolak syahwat yang sudah begitu kuat. Setelah itu ia harus menahan dongkol mendengar suara kita mendengkur.

Astaghfirullahal ‘adziim….

Lalu atas dasar apa kita merasa telah menjadi suami yang baik baginya? Atas dasar apa kita merasa menjadi bapak yang baik, sedangkan kunci pembuka yang pertama, yakni cinta yang tulus bagi ibu anak-anak kita tidak ada dalam diri kita.
Sesungguhnya, kita punya waktu yang banyak setiap hari. Yang tidak kita punya adalah kesediaan untuk meluangkan waktu secara sengaja bagi istri kita.

Waktu untuk apa? Waktu untuk bersamanya. Bukankah kita menikah karena ingin hidup bersama mewujudkan cita-cita besar yang sama? Bukankah kita menikah karena menginginkan kebersamaan, sehingga dengan itu kita bekerja sama membangun rumah-tangga yang di dalamnya penuh cinta dan barakah? Bukan kita menikah karena ada kebaikan yang hendak kita wujudkan melalui kerja-sama yang indah?

Tetapi…

Begitu menikah, kita sering lupa. Alih-alih kerja-sama, kita justru sama-sama kerja dan sama-sama menomor satukan urusan pekerjaan di atas segala-galanya. Kita lupa menempat¬kan urusan pada tempatnya yang pas, sehingga untuk bertemu dan berbincang santai dengan istri pun harus menunggu saat sakit datang. Itu pun terkadang tak tersedia banyak waktu, sebab bertumpuk urusan sudah menunggu di benak kita.

Banyak suami-istri yang tidak punya waktu untuk ngobrol ringan berdua, tetapi sanggup menghabiskan waktu berjam-jam di depan TV. Seakan-akan mereka sedang menikmati kebersamaan, padahal yang kerapkali terjadi sesungguhnya mereka sedang menciptakan ke-sendirian bersama-sama. Secara fisik mereka berdekatan, tetapi pikiran mereka sibuk sendiri-sendiri.

Tentu saja bukan berarti tak ada tempat bagi suami istri untuk melihat tayangan bergizi, dari TV atau komputer (meski saya dan istri memilih tidak ada TV di rumah karena sangat sulit menemukan acara bergizi. Sampah jauh lebih banyak). Tetapi ketika suami-istri telah terbiasa menenggelamkan diri dengan tayangan TV untuk menghapus penat, pada akhirnya bisa terjadi ada satu titik ketika hati tak lagi saling merindu saat tak bertemu berminggu-minggu. Ada pertemuan, tapi tak ada kehangatan. Ada perjumpaan, tapi tak ada kemesraan. Bahkan percintaan pun barangkali tanpa cinta, sebab untuk tetap bersemi, cinta memerlukan kesediaan untuk berbagi waktu dan perhatian.

Ada beberapa hal yang bisa kita kita lakukan untuk menyemai cinta agar bersemi indah. Kita tidak memperbincangkannya saat ini. Secara sederhana, jalan untuk menyemai cinta itu terutama terletak pada bagaimana kita menggunakan telinga dan lisan kita dengan bijak terhadap istri atau suami kita. Inilah kekuatan besar yang kerap kali diabaikan. Tampaknya sepele, tetapi akibatnya bisa mengejutkan.

Tentang bagaimana menyemai cinta di rumah kita, silakan baca kembali Agar Cinta Bersemi Indah (Gema Insani Press, 2002, edisi revisi insya Allah akan diterbitkan Pro-U Media). Selebihnya, di atas cara-cara menyemai cinta, yang paling pokok adalah kesediaan kita untuk meluangkan waktu dan memberi perhatian. Tidak ada pendekatan yang efektif jika kita tak bersedia meluangkan waktu untuk melakukannya.

Nah.

Jika istri merasa dicintai dan diperhatikan, ia cenderung akan memiliki kesediaan untuk mendengar dan mengasuh anak-anak dengan lebih baik. Ia bisa memberi perhatian yang sempurna karena kebutuhannya untuk memperoleh perhatian dari suami telah tercukupi. Ia bisa memberikan waktunya secara total bagi anak-anak karena setiap saat ia mempunyai kesempatan untuk mereguk cinta bersama suami. Bukankah tulusnya cinta justru tampak dari kesediaan kita untuk berbagi waktu berbagi cerita pada saat tidak sedang bercinta?

Kerapkali yang membuat seorang ibu kehilangan rasa sabarnya adalah tidak adanya kesediaan suami untuk mendengar cerita-ceritanya tentang betapa hebohnya ia menghadapi anak-anak hari ini. Tak banyak yang diharapkan istri. Ia hanya berharap suaminya mau mendengar dengan sungguh-sungguh cerita tentang anaknya –tidak terkecuali tentang bagaimana seriusnya ia mengasuh anak—dan itu “sudah cukup” menjadi tanda cinta. Kadang hanya dengan kesediaan kita meluangkan waktu untuk berbincang berdua, rasa capek menghadapi anak seharian serasa hilang begitu saja. Seakan-akan tumpukan pekerjaan dan hingar-bingar tingkah anak sedari pagi hingga malam, tak berbekas sedikit pun di wajahnya.

Alhasil, kesediaan untuk secara sengaja menyisihkan waktu bagi istri tidak saja mem¬buat pernikahan lebih terasa maknanya, lebih dari itu merupakan hadiah terbaik buat anak. Perhatian yang tulus membuat kemesraan bertambah-tambah. Pada saat yang sama, menjadikan ia memiliki semangat yang lebih besar untuk sabar dalam mengasuh, mendidik dan menemani anak.

Ya… ya… ya…, cintailah istri Anda sepenuh hati agar ia bisa menjadi ibu yang paling ikhlas mendidik anak-anaknya dengan cinta dan perhatian. Semoga!

(Sumber: Catatan di Fanpage FB Ust.Mohammad Fauzil Adhim)


Tinggalkan komentar

Ciptakan cita cita muliamu

“Cita cita bukan hal yg dipikirkan nanti, tapi cita adalah energi yg membuatmu menjadi hidup bukan sebongkah daging berjalan semata
Cita cita memberikan warna duniamu yg gelap tertutup awan gelap mengepul akibat kesalahan masa lalu
Tapi cita cita tak bisa dipaksakan, kaulah sendiri yg menentukan hidupmu berwana pelangi atau kelabu
Tuhanpun selalu menananmkan cita cita mulia kedalam setiap hambanya
Surga yang indah bagai pelangi setelah hujan penuh berkah membasahi bumi
Utusannya pun menanamkan cita cita untuk umatnya, apakah kita tak mau menegikuti perintah tuhanmu, atau mengikuti jalan rasul mu

Dunia ini indah sayang untuk dilewati dengan hanya sekedar merenung menanti keajaiban
Keberuntungan bukan dinanti, tapi diciptakan
Kebahagiaan pun begitu”
— @ibnukoel


Tinggalkan komentar

Ketika Tuhan rindu hambanya

Suatu ketika pernah saya merasa hidup ini datar gak ada masalah, nikmat menjalani hidup.. Kemudian tiba tiba datang masalah berat. Sempat berpikir apakah ini hukuman dari Tuhan untuk ku? Tapi aku coba merenung, bagaimana ibadah saya belakangan ini, mungkin kurang..

Ah tak kutemukan jawaban.. Tapi dari tak menemukan jawaban ini, sebenernya itulah jawabannya. Yah aku terlalu berbangga diri gak mengakui kekurangan ibadah yg telah dilakukan, menganggap apa yg dilakukan sudah sempurna, padahal ibadah yg selama ini dilakukan masih jauh dari sempurna. Masih gak khusuk waktu sholat, masih ada rasa ria ketika sedekah, dan masih banyak lagi.

image

Nah nah, kenapa ya Tuhan kasih kita perasaan itu, gelisah, banyak masalah. Yg perlu kita garis bawahi adalah Tuhan sedang rindu pada kita, dia ingin kita mendekat lagi ke padanya.. Entah kita banyak dosa, dan udah sedikit atau jauh menyimpang dari jalannya, atau kurang sempurnanya ibadah kita, atau Tuhan ingin meningkatkan level iman kita. Saran saya si kita jngan menganggap ini adzab Allah, karena Adzab diturunkan kepada orang kafir.. Apakah kita kafir.. Tentunya tidak kan.. Kita masih yakin dan percaya Kepada Tuhan.

Rasa penyesalan memang selalu ada, tapi jadikan itu motivasi untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.. “Susah kak.. Malesnya tu gak ilang ilang,”.. Paksakan saja.. Seperti batu yg keras pasti akan berlubang juga kalau kita tetesi air terus menerus walaupun harus menunggi 1000 tahun, nikmati saja prosesnya, ketika hati ini sudah melunak kamu akan menikmati nukmatnya pelukan Tuhan mu di hati mu.


Tinggalkan komentar

Bila hati kian bersih

Bila hati kian bersih pikiranpun akan jernih, sebuah potongan lirik dari lagu nasyid.

image

Pernah gak merasa sempit banget hatinya, gundah gak karuan, mau ngapa ngapain gak enak, beban hidup terasa berat. Coba deh liat kembali ke hari hari sebelum ini. Apa aja sih yg udah kamu lakukan. Mungkin kurang ibadah, kurang dzikir, atau bisa juga kebanyakan maksiat.. #mengingatkanDiriSendiri

Mungkin itu sebabnya, kita sedang jauh dengan Tuhan kita, kita sedang dekat dengan yang namanya setan. Pantes hati gak tenang, gundah gulana.
Nah bisa dicoba ni perbaiki prilaku kita dan terus perbaiki.. Kata rasul pun imbangi dosamu dengan perbuatan baik. Dzikir dan tobat, sedekah, instrospeksi diri, senyum sama orang, dan berbuat baik kepada orang lain.. Dengan berbuat baik dan berdzikir maka hati akan bersih, Insyaa Allah dosa dosa kita bisa diampuni Allah dan pikiran akan jernih, insyaa Allah kita akan menjadi pribadi yg lebih baik.

Ayo dzikir, ingat Tuhan ingat Dosa dan ingat Tuhan

dan ingat jangan lupa sarapan pagi. 😀

#NasehatUntukDiriSendiri